Kegiatan yang diadakan
oleh BPMU angkatan 2014 yang diselenggarakan di daerah gunung Tabor, Malang,
dimulai pada tanggal 19-22 Juni 2014. Kegiatan yang berisikan outbond dan pemberian
materi seputar universitas dan bagaimana menjadi ketua ormawa yang baik. Saya
mewakili UKM 3 sebagai calon ketua ormawa karena pada saat itu kami belum
sempat melakukan pemilihan ketua periode yang baru. Dari 44 ormawa kami dibagi
menjadi beberapa kelompok yang tentu akan berdinamika bersama selama 4 hari 3
malam.
Dihari pertama, kami 44
calon ketua ormawa dikumpulkan jam 7 pagi di plasa UKWMS Dinoyo. Pada waktu itu
kami diminta untuk mempersiapkan makanan yang telah ditentukan oleh panitia,
dan mengumpulkan perlengkapan-perlengkapan yang akan digunakan selama
pembekalan kali ini. Sebelum keberangkatan Wakil Rektor 1, Bpk. Harto
memberikan sedikit kata-kata motivasi untuk mengikuti kegiatan ini. Kami pun akhirnya berangkat pukul 08.00 WIB,
dengan menaiki garnisun dan gisang yang telah dipersiapakan oleh panitia.
Sesampainya di lokasi,
kami diminta untuk memakan makanan yang telah kami persiapkan sebelum berangkat
sebagai makan siang kami. Kelompok kami diminta untuk membuat satu bungkus
makanan untuk tiap anak yang berisis nasi, ikan lele, selada, dan dadar jagung.
Saat makan ternyata makanan yang telah kami siapkan ditukar dengan kelompok
yang lain, dan cara kami makan pun diatur oleh panitia. Kami semua diminta
untuk duduk melingkar sesuai dengan kelompok masing-masing kemudian tangan kami
diikat satu dengan yang lainnya, dan kami harus saling menyuapi. Hal menarik
pula dalam makan siang ini, minum yang disediakan hanya 1,5 liter dan itu untuk
seluruh peserta yang ikut dalam kegiatan ini tidak termasuk panitia.
Seusai makan kami diminta
untuk menaruh barang kami di kamar yang kami pilih secara bebas. Luar biasanya
kamar-kamar yang kami tempati tidak ada lampu sama sekali dan hanya beralaskan
karpet. Kami pun melanjutkan dengan outbond pertama, dimana kami diminta untuk
mengambil koin dan sedotan dalam sebuah baskom yang telah diisi campuran
tepung, kopi, biscuit, dan kanji. Yaaaaah…. rasanya tentu sangat tidak enak dan
juga sambil ditemani dengan cuaca hujan. Berlanjut ke pos berikutnya dimana
tiap kelompok harus mengambil sebuah bola pimpong yang telah diberi nomer di
dalam sebuh kolam. Nomer-nomer itu ternyata merupakan sebuah bentuk perform
secara langsung dan juga terdapat beberapa atribut pakaian yang harus dipakai
oleh salah satu dari perwakilan kelompok, dari pos itu menunjukan seberapa
besar kepercayaan diri kami, dan setelah itu pun kami diminta untuk berbenah
diri untuk mengikuti sesi berikutnya.
Sesi berikutnya kami
diminta untuk bermain permainan kecil, yaitu naga-nagaan, dimana satu kelompok
kakinya diikat semua kemudian diberikan sebuah balon untuk dilindungi. Pada
saat makan malam kami diberikan sebuah tempeh yang berisi makanan yang harus
kami habiskan, kami tidak diberikan sendok jadi dengan tidak langsung yah
menggunakan tangan, untungnya nggak pake suap-suapan lagi. Sesi berikutnya kami
diminta untuk membuat sebuah bentuk bebas dengan menggunakan 1 bungkus sedotan
dengan kriteria harus kuat, tidak boleh jatuh saat ditiup, dan tidak boleh
roboh ketika diangkat dan dijatuhkan. Barang-barang yang dihasilkan oleh tiap-tiap
kelompok sangat menarik, ada yang membuat kincir angin, menara, dan lain-lain.
Kami pun diminta tidur setelah kegiatan itu, tapi anehnya tidak biasanya dalam
sebuah kegiatan pelatihan kami diminta tidur dengan secepat itu, kira-kira
waktu itu jam 8 malam. Ternyata benar, pada saat kami berisitirahat, satu
persatu peserta dibangunkan untuk menyelesaikan sesi JJM (Jalan-jalan Malam). Ada
5 pos yang harus saya lewati, tiap pos mempunyai makna dan bila berhasil
menyelesaikan pos akan diberikan sebuah pesan bersambung, dan bila gagal wajah
kami akan dicoret dengan tepung.
Pada hari kedua, kami
melakukan senam dan diberi asupan campuran coklat, biscuit dan snack. Setelah
itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok baru, dan diminta untuk menyelesaikan
outbond. Lintasan yang dilalui cukup berat, karena kami harus melintasi sungai
dan juga pos-pos. Dalam outbond ini tiap kelompok diminta untuk memilih barang
yang harus dilindungi yaitu isi pensil atau telur puyuh. Kelompok kami memilih
isi pensil, lucunya sebelum berangkat isi pensil itu putus ketika mau disimpan
disebuah tempat, dan poin kelompok kami pun dikurangi. Dalam perjalan outbond
ada hal yang lucu dimana salah satu anggota kelompok kami celanannya bolong
akibat permainan disalah satu pos, karena saya menggunakan celana rangkap
akhirnya ya saya lepaskan dan pinjamkan kepada dia. Kami merupakan kelompok
terakhir yang berangkat, jadinya pada pos terakhir kami langsung mendapat
undian untuk pentas malam seni, dan kelompok kami diminta untuk membawakan
perform acara “hipnotis Uya Kuya”. Sore hari kami melakukan persiapan hingga
malam hari, cukup melelahkan bagi kami karena setelah beroutbond ria kami harus
mempersiapkan penampilan yang harus lebih meriah lagi. Malam pentas seni yang
berlangusng sangat meriah, ditemani api unggun dan perform oleh tiap-tiap
kelompok dengan antusias membuat mala itu menjadi sangat berkesan bagi saya.
Malam itu pun ditutup dengan pesta kembang api kecil-kecilan dan menerbangkan
beberapa lampion seperti balon terbang sebagai harapan kami kepdepannya sebagai
ketua ormawa UKWMS.
Tibalah dihari ketiga
dimana kami harus berkemas dipagi hari, karena harus berpindah tempat ke lokasi
dimana disiana akan diberikan materi-materi oleh pengurus-pengurus penting,
Rektor, Wakil Rekor I dan bagian kemahasiswaan UKWMS. Dihari ketiga dan keempat
cukup membosankan bagi saya, karena hanya bisa makan, duduk, dan mendengarkan
materi-materi yang akan diberikan.
Hal menarik yang saya
dapat selama proses 4 hari 3 malam ini adalah untuk menjadi seorang pemimpin
itu tidak mudah, segala sesuatunya membutuhkan proses yang panjang. Dari hal
itulah yang nantinya akan menjadikan kita sebagai seorang pemimpin yang baik
dan dapat membawa ormawa yang kita pegang menjadi lebih baik ke depannya.
Yosef Mario Nggoro /
1423012109 #JuOn


